ASAL MULA DESA BABAT
Diceritakan Oleh: Agnes
Desa Babat adalah sebuah desa yang berada di wilayah Kecamatan Penukal, Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI). Kabupaten PALI merupakan pemekaran dari Kabupaten Muara Enim yang diresmikan pada 11 Januari 2013, dengan Bapak Heri Amalindo sebagai Bupati pertama. PALI memiliki lima kecamatan, yaitu Abab, Penukal, Penukal Utara, Talang Ubi, dan Tanah Abang. Ibu kota Kabupaten PALI berada di Pendopo, Kecamatan Talang Ubi, menjadikannya kabupaten termuda di Sumatra Selatan.
Asal Nama Desa Babat
Nama Desa Babat berasal dari bahasa Jawa, yaitu babat (t.k.) yang berarti tebang atau tebas (mbabat suket berarti memotong rumput).
Menurut Bapak Alwi Effendi, selaku pemangku adat Desa Babat, ada juga kata Babad yang berarti cerita sejarah zaman dahulu atau awal berdirinya sebuah dusun/desa. Namun, karena nenek moyang desa ini diperkuat berasal dari Jawa, kemungkinan besar nama desa yang benar adalah Babat.
Sejarah Awal dan Garis Keturunan
Desa Babat pertama kali dihuni antara tahun 1380-1400 M (sekitar abad ke-13 hingga ke-14 M). Hal ini berawal dari runtuhnya Kerajaan Sriwijaya pada tahun 1377 M setelah dikalahkan oleh Kerajaan Majapahit dari Jawa Timur.
Tokoh utamanya adalah Serungoon dan istrinya, Putri Katja dari Kerajaan Majapahit. Mereka memiliki tiga keturunan: Dhulu (di Babat PU Ndjung/Musi), Dua Dhila (Ria Ulung/Di Muara Sungai Luwo Penukal), dan Dhili (Beruge Putih/di Beruge Lembak Belimbing).
Dhila memilih menetap di Muara Sungai Penukal, tepatnya di Desa Air Ritam. Dhila memiliki tiga orang anak: Ria Menanti atau Carang (di Gunung Menang), Ria Gayap (di Babat), dan Ria Bulus (di Panta Dewa).
Pendirian Desa Babat
Tiga bersaudara, Ria Menanti (Carang), Ria Gayap, dan Ria Bulus, menyusuri hulu Sungai Penukal. Ria Carang memutuskan menetap di Desa Gunung Menang. Ria Gayap dan istrinya yang sedang hamil tua, serta Ria Bulus, melanjutkan perjalanan.
Mereka singgah di Lubuk Aur (dinamakan karena banyak Bambu Kuning). Karena istri Ria Gayap hendak melahirkan, tempat tersebut yang masih berupa hutan lebat, perlu di-babat (ditebas dan ditebang) untuk membangun pondok. Ria Bulus kemudian melanjutkan perjalanan sekitar 3 KM dan menetap di Desa Panta Dewa.
Setelah melahirkan anak laki-laki bernama Karang Pandan, istri Ria Gayap tidak ingin pindah. Ria Gayap menyetujui, dan untuk memperluas wilayah tempat tinggal mereka, ia kembali melakukan babat hutan. Akhirnya, Ria Gayap memberikan nama tempat tinggal itu dengan nama Babat.
Pertarungan dan Keturunan Kedua
Suatu hari, Nanggoda datang dan menantang Ria Gayap karena dianggap memasuki wilayahnya. Ria Gayap memenangkan pertarungan dan sebagai taruhan, ia meminta istri Nanggoda yang sedang hamil. Ria Gayap menerima istri Nanggoda dengan syarat: jika anak lahir laki-laki, Nanggoda yang memberi nama.
Anak laki-laki itu lahir dan diberi nama Dalahab oleh Nanggoda, namun karena dirawat oleh Ria Gayap, ia juga diberi nama Wadasir.
Dalahab/Wadasir yang sakti kemudian mengembara ke Musi Banyuasin (Sekayu) dan menculik adik perempuan Bajau 7 (tujuh) bersaudara. Dalam pelariannya, mereka menyamarkan diri menjadi ikan toman hingga tiba di Muara Semamat, Desa Babat.
Dari pasangan Dalahab/Wadasir dan adik bungsu Bajau 7, lahirlah Sangga Layang. Ketika Sangga Layang dewasa, ia menyabung ayam di Sekayu. Bajau 7 menyadari bahwa Sangga Layang adalah keponakan mereka. Sebagai pengakuan, Bajau 7 menamai daerah mereka Babat Bujung (Toman). Mereka bersumpah bahwa penduduk asli Babat Bujung (Toman) dan Babat Penukal tidak boleh menikah karena masih ada ikatan sedarah, dan wajib diberi makan apabila berkunjung.
Daftar Pemimpin Desa Babat
Pada tahun 1983, terjadi perubahan status dari Dusun menjadi Desa, dan status pemimpin dari Keria menjadi Kepala Desa (Kades).